Madu adalah hasil produksi lebah yang penuh dengan tantangan bagi manusia untuk memahaminya. Sampai zaman modern ini, masih ada tidak kurang dari 75 jenis zat di dalam madu yang belum terdefinisikan oleh ilmu pengetahuan modern bahkan belum diberi nama.
Karena terbatasnya ilmu manusia tersebut, maka untuk membuktikan keaslian suatu madu, menuntut tantangan tersendiri juga. Namun, setidaknya ada kesepakatan umum di seluruh negara bahwa madu dikatakan asli apabila dalam proses produksi sampai hasil akhir tidak mengalami pencampuran dengan zat apapun.
Karena madu alami, memiliki komposisi kandungan zat tertentu (sebagian sudah dikenali dan sebagian lainnya belum), maka keaslian madu bisa dianalisa melalui kandungan zat yang ada dalam madu tersebut - yaitu pada zat yang sudah dapat dikenali.
Di Indonesia kualitas madu diatur melalui Standar Nasional Indonesia (SNI) no 01-3545-2004. Madu yang memiliki kualitas SNI inilah yang paling aman menjadi rujukan kualitas madu asli di Indonesia saat ini.
Madu yang baik adalah madu yang memenuhi Standar dari yang berwenang di suatu negara. Di Indonesia tentu Standar ini adalah SNI. Kemudian madu yang telah memenuhi standar tersebut, juga bisa berbeda dalam beberapa hal, misalnya, kadar airnya.
SNI hanya mensyaratkan kadar air maksimum 22 %, namun madu yang paling baik kadar airnya di bawah 17.1 % atau bahkan ada yang lebih rendah dari 15%. Madu yang kadar airnya rendah, selain akan tahan sangat lama disimpan (temuan dari piramid Mesir bisa ribuan tahun) juga akan lebih efektif khasiatnya untuk pengobatan.
Berdasarkan kadar airnya, di Amerika madu digolongkan menjadi tiga yaitu Grade A dan B dengan kadar air maksimum 18.5% dan Grade C yang memiliki kadar air maksimum 20%.
Banyak sekali tes/deteksi keaslian madu secara tradisionil dan sederhana yang sering dipakai masyarakat seperti, perembesan di kertas koran, tidak dimakan semut, ujung korek api yang dicelupkan madu namun tetap bisa menyala, menggumpalkan (coagulasi) kuning telur dan mungkin masih banyak lagi.
Tidak satupun tes-tes sederhana ini yang bisa didukung dengan argumentasi ilmiah atas kebenarannya. Tes-tes sederhana tersebut, bisa jadi cocok untuk madu tertentu pada kondisi / lingkungan tertentu, tetapi,tidak bisa digeneralisir untuk seluruh madu.
Hanya satu tes sederhana yang relatif dapat didukung kebenarannya secara ilmiah, baik secara teori maupun tes di lapangan, yaitu melalui penetesan madu ke dalam air dingin. Madu asli, akan terus turun ke bawah / dasar air, karena berat jenisnya yang jauh lebih tinggi dari air (sekitar 1.42 %) dan tidak membuat air keruh (walaupun tercampur madu), karena aktifitas air (water activity) yang rendah dari madu tersebut.
Yang serupa dengan tes ini adalah dengan menuang 1/2 atau satu sendok madu ke dalam piring yang terisi air, kemudian memutar piring ke kiri terus-menerus, maka sebelum madu bercampur dengan air, madu akan membentuk kumpulan segi enam yang menyerupai sarang lebah.







